Friday, October 7, 2016
Indonesia Comic Con 2016
Finally setelah ditunggu kurang lebih 4 bulan lamanya, event Indonesia Comic Con 2016 telah usai.
Capeknya ICC tuh nggak kerasa dibanding hahahihi seneng-seneng sama teman-teman sesama jaga booth.
Alhamdulillah event besar yang murni aku dan teman komunitas sendiri yang bikin (dari segi modal & dana) kemarin tanggal 1 & 2 Oktober berjalan dengan lancaaaarrrrr.
Serunya ngejalanin aktivitas ikutan bazaar, ketemu pelanggan, melakukan transaksi jual-beli, nggak ketinggalan pastinya poto-poto yaaa hahahahaa :D
Tadinya sih tadinya, aku mau ikutan pakai kostum. Cuman entah kenapa moodnya lagi nggak mendukung. Akhirnya yang awalnya pengen ikutan pakai kostum kucing lah, jadi Mad Hatter lah, malah nggak jadi. Akhirnya yaaa pakai yang normal. And what means normal for me ya sejenis gamis, top & bottom aja. Ujung kaki yang awalnya heels eh malah pakai sendal jepit teman. Hahaha..... I guess I lost my fashion sense ;)
Nggak jadi ikut kostuman, yasudah berubah aja jadi kame-ko (tukang motret orang). Karena 2 orang temanku pakai kostum dan looks very cute, and also they're instagram-able look, jadinya aku deh yang motret-motretin. Seneng juga sih, because taking picture is part of my hobby.
Dan di ICC juga aku launching Vol. 2 dari Midnight Monday, koleksi aksesoris buatanku. And my Lolita clothing line.
Let's see the photos below!
Sunday, June 5, 2016
As Simple As a Kindness
Semalam saya susah tidur. Biasa.. kalau mau tidur pasti suka ingat-ingat flashback ke masa-masa tertentu. Doa lengkap sebelum tidur sudah lho, padahal. Lalu perjalanan ingatan berhenti pada rak "Friendship", seperti sebuah file yang diambil dari rak besar, file itu terbuka lebar dan mencuat kenangan-kenangan bersama teman-teman dekat.
Laiknya sebuah monitor tab yang bisa digeser, memori yang menampilkan kenangan bersama teman saat SMA, kuliah dan pekerjaan di berbagai tempat. Lalu jari itu berhenti pada option kenangan dengan beberapa teman saat masih bekerja di sebuah edutainment park ternama. *Sebenarnya pop-up nya memori muncul saat teman saya posting kangen dengan suaminya yang lagi kerja di Amerika. Yes, I'm talking about youuu mbak Irma! I miss you a lot tetibaan nihh! :'( *
Terkadang momen bersama teman yang disangka tidak semenarik sahabat dekat itu kurang memorable, tapi ternyata saya salah. Saya sangat rindu dengan momen yang bisa dibilang tidak direncanakan semanis ini.
Jadi kejadiannya, saya mengingat kenangan indah saat berkunjung ke rumah teman kantor namanya Mbak Irma. Saat itu ia baru saja menikah. Suaminya satu kantor juga dengan saya, namun beda divisi bekerja di bidang F&B. *jadi intinya mbak Irma sama suaminya, juga saya itu rekan kantor*
Lalu suatu hari, mbak Irma mengundang saya dan beberapa teman kantor untuk main ke kontrakannya di wilayah Depok dekat Stasiun kereta. Disana ia mengundang kita makan-makan dan ngobrol seru aja. Dipilihlah hari libur.
Ada sekitar 4 orang yang main ke rumah mbak Irma untuk makan gratisan *HUAHAUHAHA... *. Kejadian saat berlangsung sih nggak spesial-spesial amat. Tapi setelah saya ingat-ingat, saya rindu suasana mainnya itu. Seperti dari awal berangkat, dimana rumah saya yang jauhnya naudzubillahimindzalik di Ciledug (dan kondisinya saya belum punya kendaraan pribadi), naik angkutan umum ke wilayah Depok. Oh-mai-gat. Bisa bayangin berapa jam saya kesana... tapi pas tahun 2008 itu kawasan Ciledug belum seneraka sekarang ya, belum ada tiang-tiang flyover bergelantungan di atas langit kayak sekarang. Jadi masih lumayan enak buat naik angkot, minusnya ya ngetemnya lama bangeuts.... (you know metromini lah).
Selanjutnya kita janjian di Terminal Blok M pintu 3 (atau berapa yang ke wilayah Depok) dan naik bis ke Depok. Sampai Depok kita turun di stasiun kereta yang saya lupa nama stasiunnya. Saat di stasiun mbak Irma sudah menjemput kita disana, lalu kita jalan kaki ke sebuah gang dan tiba di rumah kontrakan dengan cat warna hijau muda. Kalau saya ingat-ingat, cuaca saat itu juga mendukung kita untuk leyeh-leyeh di rumah mbak Irma. Ada matahari tapi udara sejuk.
Sesampainya di rumah, kita disambut makanan buatan mbak Irma. Menu sederhana, tapi serunya itu lho. Mengingat saya dan beberapa teman memang dekat dimasa itu, namun waktu dan tempatlah yang akhirnya buat kita semakin berjarak hingga sekarang. Kami masih berteman sangat baik kok, namun untuk bertemu secara fisikal agak lumayan butuh proses dan janji.
Yaa.. sudah kira-kira itu saja momen sesederhana itulah yang tiba-tiba bikin waktu tidur saya hampir berderai airmata.
Setelah dipikir-pikir, saya ini lumayan rumit untuk menjalin pertemanan dengan orang lain. Kalau enggak dekat banget, ya susah buat diajak kumpul. Sama yang sudah dekat seperti darahpun terkadang masih butuh inisiasi lagi untuk gaet saya bergabung. Ribet ya saya?
Kenangan sederhana itu buat saya bersyukur, bahwa orang yang serumit saya masih ada yang peduli dan ingin berteman. Saya sendiri terkadang suka malu sama sikap dan sifat saya yang minus ini. Bahkan secara sadar, saya sering melukai hati teman sendiri :'(
From the deepest of my heart, I am sorry.
From the deepest of my heart, I am sorry.
Bahkan, bahkan nih ya, setelah saya fokus untuk karir dari rumah, sapaan sederhana dari teman walaupun melalui media sosial pun saya syukuri. Mereka tulus menyapa saya untuk menanyakan kabar, bukan untuk sesuatu dari saya untuk dimanfaatkan.
Mungkin terdengar haus kasih sayang dan skeptis, but hey, manusia adalah makhluk sosial. Butuh interaksi dengan manusia lain dan tidak bisa untuk hidup sendiri. Kita bukan amoeba yang bisa membelah diri. Memang, terkadang kita butuh waktu untuk sendiri, namun saat rasa individu itu hilang, mencairlah ia mencari rekan.
Momen sesimpel apapun dalam hidup kita, saat direnungi akan terasa indah dan bermakna. Dan yang paling penting siapapun individu yang mampir dalam hidup kita jangan dianggap remeh. Ada yang pahit ada yang manis. Yang pahit akan menjadi pembelajaran hidup dan yang manis mengajarkan kita sebuah bentuk kasih sayang dalam berragam bentuk dengan cara yang berbeda-beda. Hargai dan tularkan yang baik kepada yang lain. Karena satu kebaikan, akan menjadi sebuah kenangan :)
Thursday, May 19, 2016
TIL IT HAPPENS TO YOU
I can't sleep tight last night.Gimana bisa tidur, setelah baca kasus Eno yang sadis & gak berperikemanusiaan itu? Saat membacanya, sebagai perempuan pasti ngerasa bagaimana sakitnya almh. Eno F menahan perih dan sakit luar biasa dari para jahanam yang menyiksanya :'(Kemarin saya baca sebuah komen, sebut saja insialnya DMZ di salah satu berita mengenai almh. Eno; "Si embak bacanya sambil ngebayangin ya hehe." Oke sekarang kita balik, gimana kalau beritanya "Alat vital DMZ diiris tipis-tipis dengan gunting oleh pelaku, kemudian disiram oleh air cabai dan perasan jeruk lemon, kemudian digoreng sementara DMZ sekarat merintih minta ampun. Setelah itu gagang pacul menancap masuk lewat dubur hingga melewati hati dan paru-paru." HOW ABOUT THAT?Belum kering resah kita sama kasus Yuyun di Bengkulu, muncul kasus di Manado, disusul Jawa Timur dan terbaru di Tangerang--which is very close to my house! :( Kejadian perkosaan bisa ada dimana saja, bisa terjadi dengan siapa saja, no matter what your status in society. Kenapa sekarang banyak sekali kasus perkosaan marak dimana-mana? Bukan berarti pada jaman saya masih remaja nggak ada, tapi semakin kesini semakin brutal dan diluar nalar manusia?Pendidikan? Putus sekolah? Gak usah malu gak bisa sekolah di sekolah umum atau swasta. Sekarang udah ada paket C kok. Perlu diingat ya, paket C itu bukan hanya untuk kaum nggak mampu atau putus sekolah. Banyak yang mengambil paket C yang merasa tidak mampu beradaptasi dengan sekolah normal, atau selebriti yang waktunya kurang untuk sekolah. Bisa lihat Aurel Hermansyah atau Stuart Collin (mantan suami Risty Tagor).Apa sih pemicunya? Kemiskinan? Pendidikan? Iman? Hiburan? Salah asuhan? Kemiskinan? Ya. Miskin hati, miskin ilmu, miskin rasa, MISKIN IDE. Dan lagi sekarang katanya (correct me if I'm wrong) mata pelajaran PMP/PPKN dan kesenian sudah nggak ada. WHAT?! gimana mau ada pendalaman etika dan budi pekerti kalau PMP/PPKN udah gak ada? KESENIAN HILANG? Pantesan aja sekarang banyak anak kurang kreatif dan kembali ke atas; MISKIN IDE.Pornografi adalah jenis kegiatan yang adiktifnya bisa langsung cepat terpatri di otak ketimbang narkoba, rokok dan miras. Paparan secara gamblang langsung ke otak, menyuruh untuk langsung mencari pelampiasan.Iman? itu jelas. No matter what beliefs you are, semua agama mengajarkan kebaikan. Or even tho you are an atheist, your parents must telling you, "be a good person." right? Hiburan? Pasti. Apa sih hiburan paling gampang dan gak usah ngeluarin banyak duit, tapi bisa langsung tersalurkan kepuasannya? Pornografi. Murah, cepat dan langsung adiktif. Video dari Lady Gaga -Til It Happens To YouLagu dari Lady Gaga untuk sebuah film documenter tentang perkosaan di kampus, "The Hunting Ground." Penulis lagu Lady Gaga dan Diane Warren sendiri adalah survivor dari kekerasan seksual saat remaja. Sebuah vclip dengan lirik yang cukup menyayat hati menurut saya, cukup menggambarkan bagaimana kejadian seseorang saat mengalami kekerasan itu :'(Kita mungkin cemooh atau nggak peduli sekarang sama kasus yang sedang marak belakangan. Namun, jika (bukan mendoakan, semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya) "Til It Happens To You / Sampai Itu Terjadi Kepadamu" atau kepada orang-orang yang kita sayangi, bagaimana rasanya?#SaveOurSisters #SOS #IndonesiaDaruratMoral #NyalaUntukYuyun #NyalaUntukEnno
Sunday, March 20, 2016
Life.
Morning :)
I love my life routine lately. Ternyata bangun pagi itu enak ya hahaaa (yes I'm not a morning person). Semenjak fokus di rumah, saya belajar life management kembali ke masa kecil, yang rajin bangun pagi, terus bergerak dimulai dari kamar sendiri; merapikan tempat tidur & kamar tidur yang lain, dilanjut pekerjaan rumahan; dan kalau kamu pikir pekerjaan rumah seperti cuci baju, jemur, nyapu, ngepel itu 'cemen' atau dibilang cetek, kamu harus ngalamin sendiri minimal 7 hari. Iya, yang namanya pekerjaan rumahan itu capek, tapi sudahnya lega karena apapun jadi bersih & rapi. Iya kan? ;)
Selama beberapa bulan ada di rumah, selain belajar life management saya juga jadi tahu kalau saya ada indikasi OCD (Obssesive Compulsive Disorder). Nggak terlalu dahsyat hingga benar-benar terlihat, tapi hal-hal kecil seperti peletakan remote tv yang nggak simetris, tata letak buku, keyboard komputer, tudung saji, napkin yang belum terlipat, jemuran baju yang baru diangkat harus dilipat, peletakan selimut, dan cuci tangan kalau ada darah nyamuk atau habis makan gorengan, adalah hal-hal yang sedikit mengganggu pemandangan mata dan pastinya 'gatel' pengin benerin.
Saya juga jadi rajin olahraga. Paling suka aerobik & badminton. Nah ngomong-ngomong soal badminton, beberapa waktu lalu saat saya ke AEON Mall BSD, saya beli sepasang raket jumbo beserta kok (yang lupa saya potret). Dari beli hingga main sampai tadi pagi lebih banyakan ketawa ketimbang olahraganya. Eh tapi bener lho, cepet capeknya karena ketawa itu hahahaha......
Oh iya, selama tadi olahraga, ada satu penonton setia yang nemenin saya dan mama. Yaitu Nacy, kucing anggora milik tetangga yang duduk diam selonjoran asyik ngeliatin kok yang dipukul bolak-balik. Tapi saat ia kena pukulan kok langsung berlari kaget. Lucu banget Nacy... cek potonya dibawah ya :)
Sehabis olahraga badminton (biasanya lawan harian saya mama, kalau akhir pekan papa), saya sempatkan keliling sekitaran rumah menemukan hidden spots yang belum terjamah kamera. Langit yang biru dan awan yang lagi banyak bikin hasil poto semakin bagus.
I have my own Hobbit home! hehehee.... ternyata mirip juga ya walau sedikit (maksa) hehe.
Hutan kecil di tepi sungai samping rumah. Selama motret pepohonan jati saya lirik-lirik terus ke atas, takut ular pohon yang warna hijau terang itu (Opheodrys vernalis) lagi turun ke bawah. Karena beberapa minggu yang lalu saya sempat melihat ular hijau sehijau daun muda sedang menggelayutkan badannya ke bawah. Kalau tidak teliti benar-benar seperti batang hijau daun!
Thursday, March 17, 2016
There's Something about Harry
OKAY!
Call me a super late-late fan-girl of Harry Styles. I didn't know when is the right time I started fangirling him. All I know is I am a huge fan of men with long hair, feminine face shape, good fashion vibrant, any kind of style; rock, grunge, pop, whatever. I spotted news about him lately, rumor said he will cut his hair after reach the goal until 9 inch (22,86 cm) and he will donate the hair! Nooooo.... Because he looks so good with that hair. 1D's fashion stylist said "he's hotter when he's getting older. So he can choose whatever style he wants." Damn true, Miss.
Like another testimonial from what I saw in MTV, "I got jealous with Harry Styles, because his hair now is prettier than meeeee." Yass right right!!
So Mr. Styles, you got my eyes on you this time. I don't know what will happen if someday you are truly cut your magic girl-magnet. *I'll be faint for a moment!*
The hair, the shirt-dress, the skinny jeans wrapped his tights, the blazer, that pretty face.
**GOD HELP MY EYES, PLS*
*giggled like a baby teeth*
Tuesday, March 15, 2016
I See You When I See You On Top!
"Jel, jadi lu udah nggak kantoran lagi?"
"Then how you pay the bill?"
"Emang lu pengangguran yak sekarang?"
"Nongkrong laaaah cuss kita meet up!"
Hahaa. Pertanyaan-pertanyaan diatas itu lagi sering banget mampir di inbox facebook messenger saya (berhubung smartphone lagi rusak, sosmed yang berintegrasi sama android saya off sementara). Awalnya sih say hi terus 'hey I miss youuu a lot! ayoklah kita meet up!' trus lama-lama nanya keadaan dan berakhir di 'jadi lo pengangguran nih sekarang?'
Kata pengangguran buat saya itu sedikit nyentil sih. Kata nganggur sendiri kalau diserapkan ke bahasa Inggris adalah jobless, atau translate lagi ke bahasa Indonesia jadi kurang kerjaan. Kurang kerjaan adalah iseng, dan iseng adalah jahil, tengil, nakal. Jadi nganggur adalah jahil? Hahahaaa terminologi menurut saya jangan dipercaya yah! Just kidding ;)
Jobless nya buat saya nih, lagi nggak terikat dengan sebuah instansi atau korporat perusahaan. Iya, saya lagi non-aktif bekerja sebagai pegawai bawahan seseorang atau grup company yang bisa menggaji saya setiap bulan atas buah pikir & kerja keras yang saya buat. Saya out dari BPJS, asuransi kesehatan tetap ada, Pajak Penghasilan stop, karena memang saya sedang off penghasilan. Jadi saya nggak punya uang gituh? I STILL HAVING SOME MONEY but puh-lease this is a sensitive area to be a topic, y'know. I only discuss this with my family.
"Jadi apa yang lagi dikerjain sekarang? Secara lu lagi gapunya kerjaan?"
"Trus gimana kalau mau jalan-jalan?"
"Emang kenapa lu gamau kerja? Apa udah nggak mau kerja lagi? Tinggal tunggu kewong (kawin) aja?"
Hey-hey! Sabar. Yang diatas itu adalah 2nd batch dari kumpulan pertanyaan yang rada mirip sama 1st batch paling atas. Sekalian aja ya saya jawab sama alesannya ya. (sebenernya memang tulisan ini dibuat rada nggak sabaran sama pertanyaan-pertanyaan usil. Kalian usil, tapi kalian perhatian! Love you so mucchos, my friends!).
Alasannya mungkin terdengar klise & gombal. Hampir 10 tahun kerja di Ibukota DKI Jakarta, bikin saya rindu 1 hal; saya rindu rumah. I know--I KNOOOWW it sounds so cheesy. Dari jaman saya naik angkutan umum hingga bawa kendaraan motor pribadi saya sadar kalau saya tua di jalan. Pernah nih, pernah, hampir 30 hari di bulan Ramadhan tahun 2008 saya selalu melewatkan buka puasa bersama dengan keluarga. Selaluuuu buka dengan teman kantor & nongkrong (yep, I skipped taraweh) sampai jam 11 malam. Gilak kalau dipikir-pikir emang. Dan begitu pun seterusnya, misalnya hujan, terus jalanan macet, mau nggak mau saya nongkrong dulu di sebuah kafe dengan teman-teman hingga mall-nya tutup dengan alasan saya males nerobos kemacetan ibukota kala petang.
Kurun waktu 10 tahun belakangan saya bekerja adalah era dimana gadget & sosial media berkembang pesat. Diawali dari gadget handphone, dari yang flip lalu keyboard qwerty dan terakhir total layar sentuh. Sosial media yang dimulai dari Friendster kemudian twitter, foursquare & facebook dan kini ada Path, Instagram, Vine, Pinterest, LinkedIn dan sebagainya..... turut andil menumbuh-kembangkan jati diri saya dengan lingkungan sekitar. Ada yang terbaru; post ke Facebook, terus bikin grup buat seru-seruan ngobrol. Hati lagi galau pengen curhat; tweet di Twitter. Kalo gak ada tulisan "UberSocial" atau Twitter for iPhone/Android" kayaknya nggak kece bikin statusnya. Ngegosip berita viral terkini, post ke Path; jangan lupa kasih love lalu cek berapa orang yang view your post. Oh-my-God I feel so tired of that.
I am so sorry! tapi... yah semua ada masanya. Masanya saya, menurut saya, sudah hilang intensitas untuk merasa terikat dengan beberapa sosial media tersebut. Walau tidak munafik memang saya masih menggunakan yang populer banget; Facebook. Tapi setidaknya saya sudah mengurangi--dan Instagram, karena saya punya akun bisnis disitu.
There's a devil inside me, I want everyone sees me, the way I post is unique and I want everyone likes me. Ketika sadar saya ngecek sudah berapa orang yang like atau love atau view post saya, saya happy. Tapi kalau yang love sedikit tapi yang nge-view banyak, saya stress. There's something wrong about my post, or they bored about me. Menurut saya ini adalah naluri seorang manusia untuk bersosial. "Enggak ah, gue nggak gitu. Biasa aja kalo orang mau love atau viewnya cuman sedikit ya bodo amat." Good for you kalau kamu bisa survive in a jungle full of passive-aggressive social media people.
Oke balik lagi ke pertanyaan. Oh ya saya sudah jawab ya, saya rindu rumah. Betul.
Ketika saya balik fokus di rumah saya ternyata melewatkan betapa kuatnya Ibu saya berjuang sendirian ketika tidak ada orang-orang di rumah (Bapak kerja, kakak sudah beda rumah, saya kerja dan adik kuliah). Dan saya, sudah melewatkan proses Ibu saya dari yang strong secara fisik hingga kini mulai menua dan sering pegal-pegal. I rare to post how much I love my mom, because of 1: saya malu karena saya cinta Ibu saya tapi saya sering ninggalin beliau demi saya sukses diluar. 2: karena Ibu saya nggak punya sosmed, jadi nggak usah pamer sayang-sayangan lah. Teman-teman juga sedikit yang tahu Ibu saya secara personal jadi nggak usah pamer prinsip saya.
Ketika saya fokus di rumah, Ibu mulai terbuka begitu pun saya. Sering mengobrol apaaaa saja, dari urusan dapur hingga gaya hidup orang bule yang suka kumpul kebo (gara-gara saya lagi ngikutin serial Friends & film-film Hollywood di TV kabel). Saya jadi penghubung Ibu kalau mau bepergian. Oh ya, saya juga pernah menjadi suster untuk nenek yang pernah tinggal di rumah. Nenek saya sudah jompo, jadi sudah susah jalan untuk hal-hal seperti mandi, pipis atau bab, gunting kuku, keramasin, beneran seperti suster untuk lansia saya kerjakan. Iya itu saya hampir 10 bulan lamanya. Just me. No one else.
Ketika di rumah saya jadi tahu pekerjaan perempuan. Walau aksi feminisme sudah merajalela dan statement "Hak-hak Perempuan harus setara dengan Pria" namun tetap saja perempuan harus bisa menguasai dapur, itu nasihat Ibu saya. Walau saya belum pintar memasak, setidaknya saya harus tahu pekerjaan rumah. "Syukur Alhamdulillah kalau Insya Allah kamu dapet suami horangkayah (orang kaya) jadi nggak perlu pekerjaan kasar. Tapi setidaknya harus tahu, supaya nanti nggak di'bego'in sama pembantu, itu pengalaman mama." Itu nasihat Ibu saya.
Terus gimana kalau saya mau jalan-jalan? Ya bisa laaaahh. Saya masih bisa ikut CFD-an (car free day) hari Minggu di kawasan Senayan. Saya masih jalan-jalan ke wilayah BSD, saya bisa kemana-mana koook. Tapi ya balik lagi, manfaat apa mudharat? Karena saya berpikir keluar rumah kalau pekerjaan rumah sudah selesai. Sudah selesai belum pekerjaan saya?
Terus nggak mau kerja lagi nih? Apa tinggal nikah aja?
Hey, siapa sih yang nggak mau kerja? Saya juga butuh kegiatan woy. Ada beberapa hal yang menurut saya nggak etis untuk ditulis disini, seperti keuangan, pekerjaan secara mendetail, dan beberapa project yang akan saya kerjakan. Tinggal nikah aja? Ya boleh saja kalau sudah ada calonnya (hayooo siapa yang mau daftar? hahhaaa). Ada seorang teman yang berceletuk kalau ia menanggapi keputusan saya yang mau fokus di rumah. "Iya juga sih ya, Jel. Jadi nanti kalau lo udah nikah udah nggak kaget, karena udah bisa ngapa-ngapain. Jangan kayak gue yang nggak bisa ngapa-ngapain setelah nikah." Menurut bahasa Ibu saya 'kaget berrumah-tangga'.
Seperti pepatah kekinian yang sering saya dengar; "I see you when I see you on top!" So true. Saya akan keluar rumah lagi ketika saya Insya Allah sudah berjaya, tanpa bantuan teman-teman saya kala saya merangkak derita menuju puncak kesuksesan. Karena teman-teman saya akan melihat hasil terbaiknya saja, bukan hal-hal nggak enak (karena bagian nggak enak itu nggak enak dideketin buat seru-seruan). Bukan begitu bukan intisari quote diatas? :)
Jadi apakah saya pengangguran? Tanpa pekerjaan dan tanpa pergulatan batin untuk bekerja? You decide myself what it looks like.



























