Showing posts with label Locker Personal. Show all posts
Showing posts with label Locker Personal. Show all posts

Friday, December 9, 2022

23

 Beberapa hari terakhir bikin aku kepikiran sesuatu. Well, setiap hari sih aku banyak pikiran hahaha…

Mulai dari kenaikan harga-harga, mengurus keuangan, mikirin orangtuaku, 5 tahun lagi aku seperti apa..

Dari yang tadinya pikiran iseng yang berawal hahaha malah jadi nangis dalam hati :’)

Secara tidak langsung seperti refleksi diri sendiri, lama kelamaan jadi insecure karena beberapa pencapaian nggak sesuai target. Apakah itu? Ya macam-macam. Karena dasarnya emang hobi menyakiti hati dan pikiran hampir aku rasanya berdiri di ambang batas antara gerbang depresi dan exit anxiety.

Apa itu 23?

Kemarin aku membuka twitter dan mendapati seorang netizen yang sedang berada pada masa emasnya. Good grade, good job, good life, she’s in birthday week terus di notice oleh musisi kesayangannya hingga seluruh netizen Indonesia ikut bersuka cita, iri namun berbahagia bersamanya. Karena memang sejatinya kita harus ikut berbahagia dengan pencapaian seseorang apapun itu—selama positif dan halal ya :)

Kemudian aku merasakan major throwback ke usianya, 23 tahun.

Aku merasa di usia 23 tahun aku lebih perkasa dibanding usiaku sekarang.

Mengutip lirik 22 oleh Taylor Swift:


Yeah, we're happy, free, confused and lonely at the same timeIt's miserable and magical, oh yeahTonight's the night when we forget about the deadlinesIt's time, oh-oh


Because IT IS!

Bahkan seorang teman bertanya, target nikah kapan? 

Kujawab— “23” 

Dia terkejut tertawa (in fact malah duluan dia yang menikah :D)

Kenapa kujawab begitu, at the same time aku sedang dekat dengan seseorang yang kuyakini bisa menikah dengannya tapi nyatanya malah menghilang hahaha

Aku lulus kuliah dan menerima pekerjaan lebih cepat dari beberapa teman seangkatan, bahkan kakakku pun saat ku mulai bekerja belum kelar kuliah. In 23, I felt stability in mood, life, money, job… what else I need?

Tapi nyatanya sekarang aku pensiun dini dari korporat, punya 3 kucing, still living with my parents… with for some it was embarrasing but I love my parents so much until I overthink about them everyday.

Pernahkah menonton film The Fault in Our Stars?

Augustus pernah bilang ke Hazel kalau manusia diberi 2 kali ‘tiket emas’ dalam hidup.

Hazel menggunakan salah satu tiket itu untuk pergi ke Disneyland.

Aku pernah merasakan ‘tiket emas’ itu. 

Pertama, dapat beasiswa kuliah dan kedua, having a good moment in life, surround by people who accept me as who I am… and yes it was happened in 23.

Grew up when school times who always bullied me based on my skin colors, skin condition, social status or as nerd, being acceptable is an honor to me. We were have a hard times at school years, so did I.

Ah… 23

No, I wouldn’t say ‘If only I could turn back time’ because in fact, No.

I’d prefer to cherished the moment and feel blessed.

Jadi, bagaimana 23 mu?

Aku berharap 23 mu penuh keceriaan dan kebahagiaan.

Bagi yang sedang menuju 23, jangan takut to feel old. You will have great days. Including the sad part like broken heart. It’s a part of your life-history in the future. 

Yang sedang di 23, terima kasih sudah bertahan hingga sejauh ini :) aku tahu kamu akan menjadi hebat dan 23 mu akan penuh warna.

Teruntuk para ‘mantan usia’ 23, kita semua hebat pernah berada pada titik itu. Sekarang semua hanya bisa dikenang dengan saling berkisah.

Jam 23.26 sekarang dan lagu Anti-hero by Taylor Swift sedang diputar.

I have this thing where I get older but just never wiserMidnights become my afternoonsWhen my depression works the graveyard shiftAll of the people I've ghosted stand there in the room
I should not be left to my own devicesThey come with prices and vicesI end up in crisis (tale as old as time)I wake up screaming from dreamingOne day I'll watch as you're leaving'Cause you got tired of my scheming(For the last time)
It's me, hi, I'm the problem, it's meAt tea time, everybody agreesI'll stare directly at the sun but never in the mirrorIt must be exhausting, always rooting for the anti-hero


Why Taylor Swift has to be so fkin relatable 

*cry sekebon*


Anyway terima kasih sudah baca sampai bawah, semoga kamu nggak kepikiran 23 ya.

Semoga selanjutnya aku bisa kembali menulis lagi. Sudah lama nggak nulis jadi kaku banget ngeblog.

Monday, November 13, 2017

Social Media Anxiety.


Day 8

I started to off my (almost) social media accounts since last week. 
I deactivated my personal Instagram (only my artworks acc & online shops still going on), uninstall my facebook & twitter app, because yeah, that's the only socmed I had. 
I turn off my Line, so I cannot read the upcoming chats, I block one of my friend in Whatsapp, because of her I did these all. I out from Whatsapp groups, I start to be an alien without knowing every viral things.
Even I wrote this post in pc, I didn't open my facebook/twitter. I try sooo hard no to open them.

Sometimes I need to do this action. You do too. 
I realized I got Social Media Anxiety. It's not only affected my psychology, but also my physic. I scratch my left hand without reason recently, it wasn't itchy at all! It left redness and bad skin because the scratchiness. Now I know I feel a bit depressed later because all my friends in soc med, especially Instagram (moreover because the IG story), they had something I didn't do, and probably I got a bit mad or jealous. I know it sounds bullshit but it's real.Sometimes deep down inside my heart, I want  to show something different contents from others. I want to look edgy & quirky, just like my nick name, but for some reasons I cannot make it happen right now. That's all I got after thoughts & thoughts about my anxiety problems.
So to minimalist the more bad effect, I need to offline for a while.
For how long? I don't know. 
Maybe a couple weeks, a month, or until next year (?)
Still cannot figure out.

Wish me luck to me.

Sunday, June 5, 2016

As Simple As a Kindness

Semalam saya susah tidur. Biasa.. kalau mau tidur pasti suka ingat-ingat flashback ke masa-masa tertentu. Doa lengkap sebelum tidur sudah lho, padahal. Lalu perjalanan ingatan berhenti pada rak "Friendship", seperti sebuah file yang diambil dari rak besar, file itu terbuka lebar dan mencuat kenangan-kenangan bersama teman-teman dekat.

Laiknya sebuah monitor tab yang bisa digeser, memori yang menampilkan kenangan bersama teman saat SMA, kuliah dan pekerjaan di berbagai tempat. Lalu jari itu berhenti pada option kenangan dengan beberapa teman saat masih bekerja di sebuah edutainment park ternama. *Sebenarnya pop-up nya memori muncul saat teman saya posting kangen dengan suaminya yang lagi kerja di Amerika. Yes, I'm talking about youuu mbak Irma! I miss you a lot tetibaan nihh! :'( *

Terkadang momen bersama teman yang disangka tidak semenarik sahabat dekat itu kurang memorable, tapi ternyata saya salah. Saya sangat rindu dengan momen yang bisa dibilang tidak direncanakan semanis ini.

Jadi kejadiannya, saya mengingat kenangan indah saat berkunjung ke rumah teman kantor namanya Mbak Irma. Saat itu ia baru saja menikah. Suaminya satu kantor juga dengan saya, namun beda divisi bekerja di bidang F&B. *jadi intinya mbak Irma sama suaminya, juga saya itu rekan kantor*
Lalu suatu hari, mbak Irma mengundang saya dan beberapa teman kantor untuk main ke kontrakannya di wilayah Depok dekat Stasiun kereta. Disana ia mengundang kita makan-makan dan ngobrol seru aja. Dipilihlah hari libur.

Ada sekitar 4 orang yang main ke rumah mbak Irma untuk makan gratisan *HUAHAUHAHA... *. Kejadian saat berlangsung sih nggak spesial-spesial amat. Tapi setelah saya ingat-ingat, saya rindu suasana mainnya itu. Seperti dari awal berangkat, dimana rumah saya yang jauhnya naudzubillahimindzalik di Ciledug (dan kondisinya saya belum punya kendaraan pribadi), naik angkutan umum ke wilayah Depok. Oh-mai-gat. Bisa bayangin berapa jam saya kesana... tapi pas tahun 2008 itu kawasan Ciledug belum seneraka sekarang ya, belum ada tiang-tiang flyover bergelantungan di atas langit kayak sekarang. Jadi masih lumayan enak buat naik angkot, minusnya ya ngetemnya lama bangeuts.... (you know metromini lah).

Selanjutnya kita janjian di Terminal Blok M pintu 3 (atau berapa yang ke wilayah Depok) dan naik bis ke Depok. Sampai Depok kita turun di stasiun kereta yang saya lupa nama stasiunnya. Saat di stasiun mbak Irma sudah menjemput kita disana, lalu kita jalan kaki ke sebuah gang dan tiba di rumah kontrakan dengan cat warna hijau muda. Kalau saya ingat-ingat, cuaca saat itu juga mendukung kita untuk leyeh-leyeh di rumah mbak Irma. Ada matahari tapi udara sejuk.

Sesampainya di rumah, kita disambut makanan buatan mbak Irma. Menu sederhana, tapi serunya itu lho. Mengingat saya dan beberapa teman memang dekat dimasa itu, namun waktu dan tempatlah yang akhirnya buat kita semakin berjarak hingga sekarang. Kami masih berteman sangat baik kok, namun untuk bertemu secara fisikal agak lumayan butuh proses dan janji.

Yaa.. sudah kira-kira itu saja momen sesederhana itulah yang tiba-tiba bikin waktu tidur saya hampir berderai airmata.
Setelah dipikir-pikir, saya ini lumayan rumit untuk menjalin pertemanan dengan orang lain. Kalau enggak dekat banget, ya susah buat diajak kumpul. Sama yang sudah dekat seperti darahpun terkadang masih butuh inisiasi lagi untuk gaet saya bergabung. Ribet ya saya?

Kenangan sederhana itu buat saya bersyukur, bahwa orang yang serumit saya masih ada yang peduli dan ingin berteman. Saya sendiri terkadang suka malu sama sikap dan sifat saya yang minus ini. Bahkan secara sadar, saya sering melukai hati teman sendiri :'(

From the deepest of my heart, I am sorry.

Bahkan, bahkan nih ya, setelah saya fokus untuk karir dari rumah, sapaan sederhana dari teman walaupun melalui media sosial pun saya syukuri. Mereka tulus menyapa saya untuk menanyakan kabar, bukan untuk sesuatu dari saya untuk dimanfaatkan.

Mungkin terdengar haus kasih sayang dan skeptis, but hey, manusia adalah makhluk sosial. Butuh interaksi dengan manusia lain dan tidak bisa untuk hidup sendiri. Kita bukan amoeba yang bisa membelah diri. Memang, terkadang kita butuh waktu untuk sendiri, namun saat rasa individu itu hilang, mencairlah ia mencari rekan.

Momen sesimpel apapun dalam hidup kita, saat direnungi akan terasa indah dan bermakna. Dan yang paling penting siapapun individu yang mampir dalam hidup kita jangan dianggap remeh. Ada yang pahit ada yang manis. Yang pahit akan menjadi pembelajaran hidup dan yang manis mengajarkan kita sebuah bentuk kasih sayang dalam berragam bentuk dengan cara yang berbeda-beda. Hargai dan tularkan yang baik kepada yang lain. Karena satu kebaikan, akan menjadi sebuah kenangan :)

Tuesday, March 15, 2016

I See You When I See You On Top!



"Jel, jadi lu udah nggak kantoran lagi?"
"Then how you pay the bill?"
"Emang lu pengangguran yak sekarang?"
"Nongkrong laaaah cuss kita meet up!"

Hahaa. Pertanyaan-pertanyaan diatas itu lagi sering banget mampir di inbox facebook messenger saya (berhubung smartphone lagi rusak, sosmed yang berintegrasi sama android saya off sementara). Awalnya sih say hi terus 'hey I miss youuu a lot! ayoklah kita meet up!' trus lama-lama nanya keadaan dan berakhir di 'jadi lo pengangguran nih sekarang?'

Kata pengangguran buat saya itu sedikit nyentil sih. Kata nganggur sendiri kalau diserapkan ke bahasa Inggris adalah jobless, atau translate lagi ke bahasa Indonesia jadi kurang kerjaan. Kurang kerjaan adalah iseng, dan iseng adalah jahil, tengil, nakal. Jadi nganggur adalah jahil? Hahahaaa terminologi menurut saya jangan dipercaya yah! Just kidding ;)

Jobless nya buat saya nih, lagi nggak terikat dengan sebuah instansi atau korporat perusahaan. Iya, saya lagi non-aktif bekerja sebagai pegawai bawahan seseorang atau grup company yang bisa menggaji saya setiap bulan atas buah pikir & kerja keras yang saya buat. Saya out dari BPJS, asuransi kesehatan tetap ada, Pajak Penghasilan stop, karena memang saya sedang off penghasilan. Jadi saya nggak punya uang gituh? I STILL HAVING SOME MONEY but puh-lease this is a sensitive area to be a topic, y'know. I only discuss this with my family.



"Jadi apa yang lagi dikerjain sekarang? Secara lu lagi gapunya kerjaan?"
"Trus gimana kalau mau jalan-jalan?"
"Emang kenapa lu gamau kerja? Apa udah nggak mau kerja lagi? Tinggal tunggu kewong (kawin) aja?"

Hey-hey! Sabar. Yang diatas itu adalah 2nd batch dari kumpulan pertanyaan yang rada mirip sama 1st batch paling atas. Sekalian aja ya saya jawab sama alesannya ya. (sebenernya memang tulisan ini dibuat rada nggak sabaran sama pertanyaan-pertanyaan usil. Kalian usil, tapi kalian perhatian! Love you so mucchos, my friends!).

Alasannya mungkin terdengar klise & gombal. Hampir 10 tahun kerja di Ibukota DKI Jakarta, bikin saya rindu 1 hal; saya rindu rumah. I know--I KNOOOWW it sounds so cheesy. Dari jaman saya naik angkutan umum hingga bawa kendaraan motor pribadi saya sadar kalau saya tua di jalan. Pernah nih, pernah, hampir 30 hari di bulan Ramadhan tahun 2008 saya selalu melewatkan buka puasa bersama dengan keluarga. Selaluuuu buka dengan teman kantor & nongkrong (yep, I skipped taraweh) sampai jam 11 malam. Gilak kalau dipikir-pikir emang. Dan begitu pun seterusnya, misalnya hujan, terus jalanan macet, mau nggak mau saya nongkrong dulu di sebuah kafe dengan teman-teman hingga mall-nya tutup dengan alasan saya males nerobos kemacetan ibukota kala petang.

Kurun waktu 10 tahun belakangan saya bekerja adalah era dimana gadget & sosial media berkembang pesat. Diawali dari gadget handphone, dari yang flip lalu keyboard qwerty dan terakhir total layar sentuh. Sosial media yang dimulai dari Friendster kemudian twitter, foursquare & facebook dan kini ada Path, Instagram, Vine, Pinterest, LinkedIn dan sebagainya..... turut andil menumbuh-kembangkan jati diri saya dengan lingkungan sekitar. Ada yang terbaru; post ke Facebook, terus bikin grup buat seru-seruan ngobrol. Hati lagi galau pengen curhat; tweet di Twitter. Kalo gak ada tulisan "UberSocial" atau Twitter for iPhone/Android" kayaknya nggak kece bikin statusnya. Ngegosip berita viral terkini, post ke Path; jangan lupa kasih love lalu cek berapa orang yang view your post. Oh-my-God I feel so tired of that.

I am so sorry! tapi... yah semua ada masanya. Masanya saya, menurut saya, sudah hilang intensitas untuk merasa terikat dengan beberapa sosial media tersebut. Walau tidak munafik memang saya masih menggunakan yang populer banget; Facebook. Tapi setidaknya saya sudah mengurangi--dan Instagram, karena saya punya akun bisnis disitu.

There's a devil inside me, I want everyone sees me, the way I post is unique and I want everyone likes me. Ketika sadar saya ngecek sudah berapa orang yang like atau love atau view post saya, saya happy. Tapi kalau yang love sedikit tapi yang nge-view banyak, saya stress. There's something wrong about my post, or they bored about me. Menurut saya ini adalah naluri seorang manusia untuk bersosial. "Enggak ah, gue nggak gitu. Biasa aja kalo orang mau love atau viewnya cuman sedikit ya bodo amat." Good for you kalau kamu bisa survive in a jungle full of passive-aggressive social media people.

Oke balik lagi ke pertanyaan. Oh ya saya sudah jawab ya, saya rindu rumah. Betul.
Ketika saya balik fokus di rumah saya ternyata melewatkan betapa kuatnya Ibu saya berjuang sendirian ketika tidak ada orang-orang di rumah (Bapak kerja, kakak sudah beda rumah, saya kerja dan adik kuliah). Dan saya, sudah melewatkan proses Ibu saya dari yang strong secara fisik hingga kini mulai menua dan sering pegal-pegal. I rare to post how much I love my mom, because of 1: saya malu karena saya cinta Ibu saya tapi saya sering ninggalin beliau demi saya sukses diluar. 2: karena Ibu saya nggak punya sosmed, jadi nggak usah pamer sayang-sayangan lah. Teman-teman juga sedikit yang tahu Ibu saya secara personal jadi nggak usah pamer prinsip saya.

Ketika saya fokus di rumah, Ibu mulai terbuka begitu pun saya. Sering mengobrol apaaaa saja, dari urusan dapur hingga gaya hidup orang bule yang suka kumpul kebo (gara-gara saya lagi ngikutin serial Friends & film-film Hollywood di TV kabel). Saya jadi penghubung Ibu kalau mau bepergian. Oh ya, saya juga pernah menjadi suster untuk nenek yang pernah tinggal di rumah. Nenek saya sudah jompo, jadi sudah susah jalan untuk hal-hal seperti mandi, pipis atau bab, gunting kuku, keramasin, beneran seperti suster untuk lansia saya kerjakan. Iya itu saya hampir 10 bulan lamanya. Just me. No one else.

Ketika di rumah saya jadi tahu pekerjaan perempuan. Walau aksi feminisme sudah merajalela dan statement "Hak-hak Perempuan harus setara dengan Pria" namun tetap saja perempuan harus bisa menguasai dapur, itu nasihat Ibu saya. Walau saya belum pintar memasak, setidaknya saya harus tahu pekerjaan rumah. "Syukur Alhamdulillah kalau Insya Allah kamu dapet suami horangkayah (orang kaya) jadi nggak perlu pekerjaan kasar. Tapi setidaknya harus tahu, supaya nanti nggak di'bego'in sama pembantu, itu pengalaman mama." Itu nasihat Ibu saya.

Terus gimana kalau saya mau jalan-jalan? Ya bisa laaaahh. Saya masih bisa ikut CFD-an (car free day) hari Minggu di kawasan Senayan. Saya masih jalan-jalan ke wilayah BSD, saya bisa kemana-mana koook. Tapi ya balik lagi, manfaat apa mudharat? Karena saya berpikir keluar rumah kalau pekerjaan rumah sudah selesai. Sudah selesai belum pekerjaan saya?

Terus nggak mau kerja lagi nih? Apa tinggal nikah aja?
Hey, siapa sih yang nggak mau kerja? Saya juga butuh kegiatan woy. Ada beberapa hal yang menurut saya nggak etis untuk ditulis disini, seperti keuangan, pekerjaan secara mendetail, dan beberapa project yang akan saya kerjakan. Tinggal nikah aja? Ya boleh saja kalau sudah ada calonnya (hayooo siapa yang mau daftar? hahhaaa). Ada seorang teman yang berceletuk kalau ia menanggapi keputusan saya yang mau fokus di rumah. "Iya juga sih ya, Jel. Jadi nanti kalau lo udah nikah udah nggak kaget, karena udah bisa ngapa-ngapain. Jangan kayak gue yang nggak bisa ngapa-ngapain setelah nikah." Menurut bahasa Ibu saya 'kaget berrumah-tangga'.

Seperti pepatah kekinian yang sering saya dengar; "I see you when I see you on top!" So true. Saya akan keluar rumah lagi ketika saya Insya Allah sudah berjaya, tanpa bantuan teman-teman saya kala saya merangkak derita menuju puncak kesuksesan. Karena teman-teman saya akan melihat hasil terbaiknya saja, bukan hal-hal nggak enak (karena bagian nggak enak itu nggak enak dideketin buat seru-seruan). Bukan begitu bukan intisari quote diatas? :)

Jadi apakah saya pengangguran? Tanpa pekerjaan dan tanpa pergulatan batin untuk bekerja? You decide myself what it looks like.


Tuesday, January 12, 2016

HASHTAG: SELFIE.

Belakangan ini beberapa teman suka bertanya sama saya soal profile picture. "Jel, kenapa Jel kok gak pernah pasang poto muka lu lagi sih? Emang beneran ya gak boleh?"
Saya jawab, "Iya. Katanya sih gitu. Tapi gue juga udah enggak suka juga sih."

Terlepas dari dosa atau tidak menurut penjelasan yang pernah di-publish Ust. Felix Siauw di sosial media belakangan ini,  saya memilih untuk mengurangi postingan #selfie ke sosial media. Dan itu baru beberapa bulan ini saya lakukan. Jika pun saya harus posting 'muka' saya di sosmed itu pun tidak sendiri. Minimal berdua dan bersama perempuan. 

Kenapa saya harus memiliki keputusan seperti itu? Tak lepas semuanya berdasarkan pengalaman pribadi. 
Pernah saya posting sebuah foto yang memang menurut saya pribadi saya cantik di foto itu. Saya terlihat 'cute' dan beda dari hari biasanya. Saya post foto itu di instagram linked to facebook dan pasang foto itu juga sebagai profile picture di Path & facebook. Pokoknya saya senang sama foto itu deh!
Enggak lama mulai banyak notif dari teman-teman di sosmed, kasih love, kasih like, komen cantik, lucu, imut dan lain-lain. Sebagai orang yang jarang kelihatan cantik di hari-hari biasa yaa.... saya senang dong dipuji gitu. 
Enggak berhenti sampai disitu. Perhatian saya tercuri oleh salah seorang kawan lama di Path yang kasih love di foto profile dan merembet ke postingan-postingan saya yang lama-lama. Saya pikir, 'ah kepo kali nih orang..' saya cuekin dia.
Besok-besoknya, saya posting apapun dikasih love sama dia. Akhirnya saya beranikan diri untuk menyapa lewat Path Talk. Saya lihat foto profilnya yang terlihat sholeh. Saya sapa sopan dengan pertanyaan awal standar, 'Assalamu'alaikum, apa kabar?' kemudian dia langsung merespon, 
'Wa'alaikumsalam, apa kabarnya Jel? Punya BBM, Line, WA or else?' karena dia adalah sahabat lama sejak SMP dulu dan saya kenal baik dengannya, saya balas. Maksud saya kan sambung silaturrahim. Dan saya beri semua link chat line ke dia.
Enggak lama, dia balas lagi, 'Gimana kabarnya nih? Udah nikah belum?'
'Belum. Lo sendiri gimana? Kayaknya udah nikah nih?' Karena saya lihat wajahnya udah kayak bapak anak 3.
He: 'Belum. Kamu udah punya calon belum?'
Me: 'Belum. Doain aja ya.' 
He: 'Ya udah, lanjut aja ke BBM ya.'

Dan langsung dia add semua chat line dan obrolan berlanjut ke BBM.

Saya langsung ke intinya aja ya. Intinya, dia kaget melihat saya yang dulu dan sekarang berbeda. Saya sudah pakai hijab dan semakin terlihat muslimah di matanya. Apalagi setelah melihat saya di foto profil terbaru. Hatinya semakin tergerak untuk mengajak bicara namun keduluan sama saya yang kepo sama aksi caper dia. Tanpa pikir panjang, setelah percakapan ice-breaking (kita sudah lama tak jumpa hampir 11 tahun, dari 14 tahun pertemanan!), dia mulai kembali ke pokok inti pembicaraan bahwa ia sedang mencari seorang istri. 
Dan dia ingin kenalan dengan saya lebih lanjut. Saya (yang sebenarnya juga sedang mencari) merasa haru. 
Akhirnya perkenalan itu terjadi kurang lebih 2 bulan. Pembicaraan itu berlanjut ke tanggal dan pertemuan keluarga.

Bulan pertama dia bertemu dengan saya. Dia bilang dengan jujur, bahwa saya orang yang nggak bisa lepas dari make up. Saya bilang, 'Ya memang. Saya hampir setiap hari make up karena tuntutan pekerjaan, walau tipis.' Dia bilang dia nggak suka. Saya bilang, 'Jadi kecewa nih gara-gara lihat foto profilnya beda sama kenyataan?' 
'Enggak juga. Tapi aku pribadi nggak terlalu nyaman sama perempuan yang terlalu make up-an.' 
Saya sedikit tertohok sih. Karena hampir 7 tahun saya bekerja non stop di tempat kerja yang lama menuntut tinggi untuk grooming. Dan teman-teman lawan jenis di kantor juga jadi biasa melihat perempuan ber-make up. Walau sebenarnya dalam Islam memang tak diperbolehkan bersolek untuk lawan jenis yang bukan mahram. Bersoleknya hanya untuk suami. 
Akhirnya berat saya menjawab, 'Iya nanti dikurangi.'
Karena kita sudah menetapkan akhir 2014 Insya Allah akan walimah, akhirnya saya mulai mencoba shalat Isthikharah. Enggak sekali, hampir 3 kali. Dia pun kaget saya sudah shalat Isthikharah. Namun memang, Allah lebih sayang sama saya. Saya enggak diberi mimpi ataupun satu petunjuk nyata tentang dia.

Selepas itu kami masih saling berhubungan hingga bulan ke 3. Dan sesudah lebaran 2014 dia menghilang entah kemana seperti ditelan Kraken. 
Jelas saya patah hati. Walau kita tidak menyebut hubungan 3 bulan belakangan ini pacaran, karena mengarah kepada ta'aruf tapi terselubung, tetap saja rasanya sakit hati ini (ceile....).
Setelah saya 'curhat' sama sahabat yang juga kenal dengan lelaki itu, dia berkomentar, "Mungkin nih je, mungkin... elo kan memang jarang berhubungan dengan lawan jenis. Ketika ada yang menawarkan itu lo senang dan akhirnya menerima walau sebenarnya udah ngerasa nggak cocok pada akhirnya. Intinya lo hanya suka ide-nya. Ide untuk menikah."
Saat itu saya sadar se-sadar-sadarnya. Benar juga. Apa yang ia tawarkan karena mencari seorang pendamping saya setujui. Cocok tidak cocok urusan belakangan. Namun pada akhirnya kita berdua menyerah dan tidak melanjutkan proses ta'aruf.

Setelah 'sober' dari rasa galau, saya mulai berpikir dan merunut kesalahan-kesalahan yang mungkin memang dirasa terjadi karena kekhilafan, yang menyebabkan dia enggan meneruskan. Saya tersadar dari foto selfie yang saya pasang di Path. Dan bersamaan itu salah seorang sahabat di Path bercerita bahwa ia tidak mau memasang foto aslinya lagi. Saya kepo sama sahabat saya itu. Saya buka instagramnya dan tulisan-tulisannya buat saya tersadar (padahal aslinya ganteng lho. Tapi dia nggak mau ambil resiko panjang karena dia sadar itu akan membuat dosa). Dan saya juga ingat sama tulisan Ust. Felix Siauw mengenai selfie. Berikut sedikit kutipan yang ambil dari website pak Ustadz:

selfie itu kebanyakan berujung pada TAKABBUR, RIYA, sedikitnya UJUB
buat cewek apalagi cowok, lebih baik hindari yang namanya foto selfie, nggak ada manfaatnya banyak mudharatnya
bila kita berfoto selfie lalu takjub dengan hasil foto itu, bahkan mencari-cari pose terbaik dengan foto itu, lalu mengagumi hasilnya, mengagumi diri sendiri, maka khawatir itu termasuk UJUB
bila kita berfoto selfie lalu mengunggah di media sosial, lalu berharap ianya di-komen, di-like, di-view atau apalah, bahkan kita merasa senang ketika mendapatkan apresiasi, lalu ber-selfie ria dengan alasan ingin mengunggahnya sehingga jadi semisal seleb, maka kita masuk dalam perangkap RIYA
bila kita berfoto selfie, lalu dengannya kita membanding-bandingkan dengan orang lainnya, merasa lebih baik dari yang lain karenanya, merasa lebih hebat karenanya, jatuhlah kita pada hal yang paling buruk yaitu TAKABBUR
ketiganya mematikan hati, membakar habis amal, dan membuatnya layu bahkan sebelum ia mekar

Dan seterusnya. Untuk lebih lanjut bahasan selfie bisa dilihat di sini.
Astaghfirullah..... ternyata apa yang saya lakukan itu salah. Niat hati ingin terlihat beda namun pada akhirnya saya sendiri yang membuat celaka. Pertemuan dengan lelaki itu alhamdulillah telah membuka hati saya bahwa selfie yang saya lakukan benar mudharat hasilnya. Saya seharusnya berterima kasih kepada lelaki itu kalau tidak saya masih merasa ujub dengan tampilan cantik diri sendiri dan mempostingnya lebih banyak. 
Semoga teman-teman yang masih suka selfie, apalagi muslimah dijaga baik-baik ya kesuciannya. Kesucian bukan hanya dari kemaluan fisik, namun khazanah seorang muslimah. Inti dari seorang muslimah. Kita tidak tahu apa yang dilihat para lelaki yang mengagumi kecantikan fisik kita, apakah hanya sekedar penyegar mata atau benar-benar menjadi penyegar nafsu birahi sebagai pelampiasan? Maaf lho kalau tulisannya sedikit vulgar. Saya pernah dapat info dari teman soal JKT48. Di teater yang mereka miliki juga dijual merchandise para member grup idol yang masih satu keluarga dengan AKB48 dari Jepang. Banyak kejadian para wota (die hard fans JKT48) membeli foto-foto para member dan menjadikannya sebagai (maaf) bahan untuk masturbasi. Bayangkan kalau foto member grup idol itu adalah kamu, diambil dari foto selfie yang diposting di sosmed kamu. Sebagai perempuan pasti rasanya jijik dan merasa dilecehkan! :(
Kalau belum bisa langsung stop no-selfie di sosmed, pelan-pelan saja seperti berfoto bersama dengan teman-teman yang banyak. Kalau ingin foto baju, wajahnya mungkin bisa di-blur. Banyak teman-teman sudah melakukan hal ini. Seperti foto bio saya di sebelah post... dimacem-macemin dengan template yang aneh-aneh ;D Teman-teman dekat saya sudah tahu kalau saya enggak suka foto muka. Kalaupun foto muka pasti dianeh-anehin. hehehe..... Atau cari sendiri tips yang mungkin pas dengan caramu sendiri.

P.S: cek Instagram sahabat sholeh saya yang menyadarkan anti selfie & pastinya bikin kamu bisa termotivasi di sini !

Monday, January 11, 2016

Midnight Monday Vol. 1



Hello!!

Dulu aku pernah punya lini aksesoris namanya Lady Locker. Tapi sekarang aku punya yang baru namanya Midnight Monday!

Alhamdulillah, Midnight Monday sudah masuk bulan ke dua dari sejak tanggal pembuatan yaitu di tanggal 18 November 2015 lalu. Pendirinya adalah saya dan sahabat namanya Annona. 

Nah, koleksi perdana ini kita luncurkan bersamaan dengan malam puncak penobatan Miss KidZania 2015 pada tanggal 20 Desember 2015. Volume 1 kita beri nama Sweet Safari, terinspirasi dari koleksi aksesoris dengan tren binatang dipadu dengan manisnya warna-warni yang juga terilhami oleh indahnya taman konservasi di seluruh dunia.

Lihat cuplikannya yuk!

















Btari Keshya Valerie, Miss KidZania 2013 juga mengenakan aksesoris dari Midnight Monday lho. 









Nah ini cuplikan dari Vol. 1.. :)


Buat lebih lengkapnya sila mampir ke tokonya yaa! Di:
facebook fanpage : Midnight Monday 
Instagram : @midnightmonday.id