Sunday, March 20, 2016

Life.

Morning :)

I love my life routine lately. Ternyata bangun pagi itu enak ya hahaaa (yes I'm not a morning person). Semenjak fokus di rumah, saya belajar life management kembali ke masa kecil, yang rajin bangun pagi, terus bergerak dimulai dari kamar sendiri; merapikan tempat tidur & kamar tidur yang lain, dilanjut pekerjaan rumahan; dan kalau kamu pikir pekerjaan rumah seperti cuci baju, jemur, nyapu, ngepel itu 'cemen' atau dibilang cetek, kamu harus ngalamin sendiri minimal 7 hari. Iya, yang namanya pekerjaan rumahan itu capek, tapi sudahnya lega karena apapun jadi bersih & rapi. Iya kan? ;)




Selama beberapa bulan ada di rumah, selain belajar life management saya juga jadi tahu kalau saya ada indikasi OCD (Obssesive Compulsive Disorder). Nggak terlalu dahsyat hingga benar-benar terlihat, tapi hal-hal kecil seperti peletakan remote tv yang nggak simetris, tata letak buku, keyboard komputer, tudung saji, napkin yang belum terlipat, jemuran baju yang baru diangkat harus dilipat, peletakan selimut, dan cuci tangan kalau ada darah nyamuk atau habis makan gorengan, adalah hal-hal yang sedikit mengganggu pemandangan mata dan pastinya 'gatel' pengin benerin. 

Saya juga jadi rajin olahraga. Paling suka aerobik & badminton. Nah ngomong-ngomong soal badminton, beberapa waktu lalu saat saya ke AEON Mall BSD, saya beli sepasang raket jumbo beserta kok (yang lupa saya potret). Dari beli hingga main sampai tadi pagi lebih banyakan ketawa ketimbang olahraganya. Eh tapi bener lho, cepet capeknya karena ketawa itu hahahaha......




Oh iya, selama tadi olahraga, ada satu penonton setia yang nemenin saya dan mama. Yaitu Nacy, kucing anggora milik tetangga yang duduk diam selonjoran asyik ngeliatin kok yang dipukul bolak-balik. Tapi saat ia kena pukulan kok langsung berlari kaget. Lucu banget Nacy... cek potonya dibawah ya :)










Sehabis olahraga badminton (biasanya lawan harian saya mama, kalau akhir pekan papa), saya sempatkan keliling sekitaran rumah menemukan hidden spots yang belum terjamah kamera. Langit yang biru dan awan yang lagi banyak bikin hasil poto semakin bagus. 





I have my own Hobbit home! hehehee.... ternyata mirip juga ya walau sedikit (maksa) hehe.





Hutan kecil di tepi sungai samping rumah. Selama motret pepohonan jati saya lirik-lirik terus ke atas, takut ular pohon yang warna hijau terang itu (Opheodrys vernalis) lagi turun ke bawah. Karena beberapa minggu yang lalu saya sempat melihat ular hijau sehijau daun muda sedang menggelayutkan badannya ke bawah. Kalau tidak teliti benar-benar seperti batang hijau daun!





Thursday, March 17, 2016

There's Something about Harry


OKAY!

Call me a super late-late fan-girl of Harry Styles. I didn't know when is the right time I started fangirling him. All I know is I am a huge fan of men with long hair, feminine face shape, good fashion vibrant, any kind of style; rock, grunge, pop, whatever. I spotted news about him lately, rumor said he will cut his hair after reach the goal until 9 inch (22,86 cm) and he will donate the hair! Nooooo.... Because he looks so good with that hair. 1D's fashion stylist said "he's hotter when he's getting older. So he can choose whatever style he wants." Damn true, Miss.

Like another testimonial from what I saw in MTV, "I got jealous with Harry Styles, because his hair now is prettier than meeeee." Yass right right!!

So Mr. Styles, you got my eyes on you this time. I don't know what will happen if someday you are truly cut your magic girl-magnet. *I'll be faint for a moment!*


The hair, the shirt-dress, the skinny jeans wrapped his tights, the blazer, that pretty face.
**GOD HELP MY EYES, PLS*


*giggled like a baby teeth*

Tuesday, March 15, 2016

I See You When I See You On Top!



"Jel, jadi lu udah nggak kantoran lagi?"
"Then how you pay the bill?"
"Emang lu pengangguran yak sekarang?"
"Nongkrong laaaah cuss kita meet up!"

Hahaa. Pertanyaan-pertanyaan diatas itu lagi sering banget mampir di inbox facebook messenger saya (berhubung smartphone lagi rusak, sosmed yang berintegrasi sama android saya off sementara). Awalnya sih say hi terus 'hey I miss youuu a lot! ayoklah kita meet up!' trus lama-lama nanya keadaan dan berakhir di 'jadi lo pengangguran nih sekarang?'

Kata pengangguran buat saya itu sedikit nyentil sih. Kata nganggur sendiri kalau diserapkan ke bahasa Inggris adalah jobless, atau translate lagi ke bahasa Indonesia jadi kurang kerjaan. Kurang kerjaan adalah iseng, dan iseng adalah jahil, tengil, nakal. Jadi nganggur adalah jahil? Hahahaaa terminologi menurut saya jangan dipercaya yah! Just kidding ;)

Jobless nya buat saya nih, lagi nggak terikat dengan sebuah instansi atau korporat perusahaan. Iya, saya lagi non-aktif bekerja sebagai pegawai bawahan seseorang atau grup company yang bisa menggaji saya setiap bulan atas buah pikir & kerja keras yang saya buat. Saya out dari BPJS, asuransi kesehatan tetap ada, Pajak Penghasilan stop, karena memang saya sedang off penghasilan. Jadi saya nggak punya uang gituh? I STILL HAVING SOME MONEY but puh-lease this is a sensitive area to be a topic, y'know. I only discuss this with my family.



"Jadi apa yang lagi dikerjain sekarang? Secara lu lagi gapunya kerjaan?"
"Trus gimana kalau mau jalan-jalan?"
"Emang kenapa lu gamau kerja? Apa udah nggak mau kerja lagi? Tinggal tunggu kewong (kawin) aja?"

Hey-hey! Sabar. Yang diatas itu adalah 2nd batch dari kumpulan pertanyaan yang rada mirip sama 1st batch paling atas. Sekalian aja ya saya jawab sama alesannya ya. (sebenernya memang tulisan ini dibuat rada nggak sabaran sama pertanyaan-pertanyaan usil. Kalian usil, tapi kalian perhatian! Love you so mucchos, my friends!).

Alasannya mungkin terdengar klise & gombal. Hampir 10 tahun kerja di Ibukota DKI Jakarta, bikin saya rindu 1 hal; saya rindu rumah. I know--I KNOOOWW it sounds so cheesy. Dari jaman saya naik angkutan umum hingga bawa kendaraan motor pribadi saya sadar kalau saya tua di jalan. Pernah nih, pernah, hampir 30 hari di bulan Ramadhan tahun 2008 saya selalu melewatkan buka puasa bersama dengan keluarga. Selaluuuu buka dengan teman kantor & nongkrong (yep, I skipped taraweh) sampai jam 11 malam. Gilak kalau dipikir-pikir emang. Dan begitu pun seterusnya, misalnya hujan, terus jalanan macet, mau nggak mau saya nongkrong dulu di sebuah kafe dengan teman-teman hingga mall-nya tutup dengan alasan saya males nerobos kemacetan ibukota kala petang.

Kurun waktu 10 tahun belakangan saya bekerja adalah era dimana gadget & sosial media berkembang pesat. Diawali dari gadget handphone, dari yang flip lalu keyboard qwerty dan terakhir total layar sentuh. Sosial media yang dimulai dari Friendster kemudian twitter, foursquare & facebook dan kini ada Path, Instagram, Vine, Pinterest, LinkedIn dan sebagainya..... turut andil menumbuh-kembangkan jati diri saya dengan lingkungan sekitar. Ada yang terbaru; post ke Facebook, terus bikin grup buat seru-seruan ngobrol. Hati lagi galau pengen curhat; tweet di Twitter. Kalo gak ada tulisan "UberSocial" atau Twitter for iPhone/Android" kayaknya nggak kece bikin statusnya. Ngegosip berita viral terkini, post ke Path; jangan lupa kasih love lalu cek berapa orang yang view your post. Oh-my-God I feel so tired of that.

I am so sorry! tapi... yah semua ada masanya. Masanya saya, menurut saya, sudah hilang intensitas untuk merasa terikat dengan beberapa sosial media tersebut. Walau tidak munafik memang saya masih menggunakan yang populer banget; Facebook. Tapi setidaknya saya sudah mengurangi--dan Instagram, karena saya punya akun bisnis disitu.

There's a devil inside me, I want everyone sees me, the way I post is unique and I want everyone likes me. Ketika sadar saya ngecek sudah berapa orang yang like atau love atau view post saya, saya happy. Tapi kalau yang love sedikit tapi yang nge-view banyak, saya stress. There's something wrong about my post, or they bored about me. Menurut saya ini adalah naluri seorang manusia untuk bersosial. "Enggak ah, gue nggak gitu. Biasa aja kalo orang mau love atau viewnya cuman sedikit ya bodo amat." Good for you kalau kamu bisa survive in a jungle full of passive-aggressive social media people.

Oke balik lagi ke pertanyaan. Oh ya saya sudah jawab ya, saya rindu rumah. Betul.
Ketika saya balik fokus di rumah saya ternyata melewatkan betapa kuatnya Ibu saya berjuang sendirian ketika tidak ada orang-orang di rumah (Bapak kerja, kakak sudah beda rumah, saya kerja dan adik kuliah). Dan saya, sudah melewatkan proses Ibu saya dari yang strong secara fisik hingga kini mulai menua dan sering pegal-pegal. I rare to post how much I love my mom, because of 1: saya malu karena saya cinta Ibu saya tapi saya sering ninggalin beliau demi saya sukses diluar. 2: karena Ibu saya nggak punya sosmed, jadi nggak usah pamer sayang-sayangan lah. Teman-teman juga sedikit yang tahu Ibu saya secara personal jadi nggak usah pamer prinsip saya.

Ketika saya fokus di rumah, Ibu mulai terbuka begitu pun saya. Sering mengobrol apaaaa saja, dari urusan dapur hingga gaya hidup orang bule yang suka kumpul kebo (gara-gara saya lagi ngikutin serial Friends & film-film Hollywood di TV kabel). Saya jadi penghubung Ibu kalau mau bepergian. Oh ya, saya juga pernah menjadi suster untuk nenek yang pernah tinggal di rumah. Nenek saya sudah jompo, jadi sudah susah jalan untuk hal-hal seperti mandi, pipis atau bab, gunting kuku, keramasin, beneran seperti suster untuk lansia saya kerjakan. Iya itu saya hampir 10 bulan lamanya. Just me. No one else.

Ketika di rumah saya jadi tahu pekerjaan perempuan. Walau aksi feminisme sudah merajalela dan statement "Hak-hak Perempuan harus setara dengan Pria" namun tetap saja perempuan harus bisa menguasai dapur, itu nasihat Ibu saya. Walau saya belum pintar memasak, setidaknya saya harus tahu pekerjaan rumah. "Syukur Alhamdulillah kalau Insya Allah kamu dapet suami horangkayah (orang kaya) jadi nggak perlu pekerjaan kasar. Tapi setidaknya harus tahu, supaya nanti nggak di'bego'in sama pembantu, itu pengalaman mama." Itu nasihat Ibu saya.

Terus gimana kalau saya mau jalan-jalan? Ya bisa laaaahh. Saya masih bisa ikut CFD-an (car free day) hari Minggu di kawasan Senayan. Saya masih jalan-jalan ke wilayah BSD, saya bisa kemana-mana koook. Tapi ya balik lagi, manfaat apa mudharat? Karena saya berpikir keluar rumah kalau pekerjaan rumah sudah selesai. Sudah selesai belum pekerjaan saya?

Terus nggak mau kerja lagi nih? Apa tinggal nikah aja?
Hey, siapa sih yang nggak mau kerja? Saya juga butuh kegiatan woy. Ada beberapa hal yang menurut saya nggak etis untuk ditulis disini, seperti keuangan, pekerjaan secara mendetail, dan beberapa project yang akan saya kerjakan. Tinggal nikah aja? Ya boleh saja kalau sudah ada calonnya (hayooo siapa yang mau daftar? hahhaaa). Ada seorang teman yang berceletuk kalau ia menanggapi keputusan saya yang mau fokus di rumah. "Iya juga sih ya, Jel. Jadi nanti kalau lo udah nikah udah nggak kaget, karena udah bisa ngapa-ngapain. Jangan kayak gue yang nggak bisa ngapa-ngapain setelah nikah." Menurut bahasa Ibu saya 'kaget berrumah-tangga'.

Seperti pepatah kekinian yang sering saya dengar; "I see you when I see you on top!" So true. Saya akan keluar rumah lagi ketika saya Insya Allah sudah berjaya, tanpa bantuan teman-teman saya kala saya merangkak derita menuju puncak kesuksesan. Karena teman-teman saya akan melihat hasil terbaiknya saja, bukan hal-hal nggak enak (karena bagian nggak enak itu nggak enak dideketin buat seru-seruan). Bukan begitu bukan intisari quote diatas? :)

Jadi apakah saya pengangguran? Tanpa pekerjaan dan tanpa pergulatan batin untuk bekerja? You decide myself what it looks like.


Tuesday, January 12, 2016

HASHTAG: SELFIE.

Belakangan ini beberapa teman suka bertanya sama saya soal profile picture. "Jel, kenapa Jel kok gak pernah pasang poto muka lu lagi sih? Emang beneran ya gak boleh?"
Saya jawab, "Iya. Katanya sih gitu. Tapi gue juga udah enggak suka juga sih."

Terlepas dari dosa atau tidak menurut penjelasan yang pernah di-publish Ust. Felix Siauw di sosial media belakangan ini,  saya memilih untuk mengurangi postingan #selfie ke sosial media. Dan itu baru beberapa bulan ini saya lakukan. Jika pun saya harus posting 'muka' saya di sosmed itu pun tidak sendiri. Minimal berdua dan bersama perempuan. 

Kenapa saya harus memiliki keputusan seperti itu? Tak lepas semuanya berdasarkan pengalaman pribadi. 
Pernah saya posting sebuah foto yang memang menurut saya pribadi saya cantik di foto itu. Saya terlihat 'cute' dan beda dari hari biasanya. Saya post foto itu di instagram linked to facebook dan pasang foto itu juga sebagai profile picture di Path & facebook. Pokoknya saya senang sama foto itu deh!
Enggak lama mulai banyak notif dari teman-teman di sosmed, kasih love, kasih like, komen cantik, lucu, imut dan lain-lain. Sebagai orang yang jarang kelihatan cantik di hari-hari biasa yaa.... saya senang dong dipuji gitu. 
Enggak berhenti sampai disitu. Perhatian saya tercuri oleh salah seorang kawan lama di Path yang kasih love di foto profile dan merembet ke postingan-postingan saya yang lama-lama. Saya pikir, 'ah kepo kali nih orang..' saya cuekin dia.
Besok-besoknya, saya posting apapun dikasih love sama dia. Akhirnya saya beranikan diri untuk menyapa lewat Path Talk. Saya lihat foto profilnya yang terlihat sholeh. Saya sapa sopan dengan pertanyaan awal standar, 'Assalamu'alaikum, apa kabar?' kemudian dia langsung merespon, 
'Wa'alaikumsalam, apa kabarnya Jel? Punya BBM, Line, WA or else?' karena dia adalah sahabat lama sejak SMP dulu dan saya kenal baik dengannya, saya balas. Maksud saya kan sambung silaturrahim. Dan saya beri semua link chat line ke dia.
Enggak lama, dia balas lagi, 'Gimana kabarnya nih? Udah nikah belum?'
'Belum. Lo sendiri gimana? Kayaknya udah nikah nih?' Karena saya lihat wajahnya udah kayak bapak anak 3.
He: 'Belum. Kamu udah punya calon belum?'
Me: 'Belum. Doain aja ya.' 
He: 'Ya udah, lanjut aja ke BBM ya.'

Dan langsung dia add semua chat line dan obrolan berlanjut ke BBM.

Saya langsung ke intinya aja ya. Intinya, dia kaget melihat saya yang dulu dan sekarang berbeda. Saya sudah pakai hijab dan semakin terlihat muslimah di matanya. Apalagi setelah melihat saya di foto profil terbaru. Hatinya semakin tergerak untuk mengajak bicara namun keduluan sama saya yang kepo sama aksi caper dia. Tanpa pikir panjang, setelah percakapan ice-breaking (kita sudah lama tak jumpa hampir 11 tahun, dari 14 tahun pertemanan!), dia mulai kembali ke pokok inti pembicaraan bahwa ia sedang mencari seorang istri. 
Dan dia ingin kenalan dengan saya lebih lanjut. Saya (yang sebenarnya juga sedang mencari) merasa haru. 
Akhirnya perkenalan itu terjadi kurang lebih 2 bulan. Pembicaraan itu berlanjut ke tanggal dan pertemuan keluarga.

Bulan pertama dia bertemu dengan saya. Dia bilang dengan jujur, bahwa saya orang yang nggak bisa lepas dari make up. Saya bilang, 'Ya memang. Saya hampir setiap hari make up karena tuntutan pekerjaan, walau tipis.' Dia bilang dia nggak suka. Saya bilang, 'Jadi kecewa nih gara-gara lihat foto profilnya beda sama kenyataan?' 
'Enggak juga. Tapi aku pribadi nggak terlalu nyaman sama perempuan yang terlalu make up-an.' 
Saya sedikit tertohok sih. Karena hampir 7 tahun saya bekerja non stop di tempat kerja yang lama menuntut tinggi untuk grooming. Dan teman-teman lawan jenis di kantor juga jadi biasa melihat perempuan ber-make up. Walau sebenarnya dalam Islam memang tak diperbolehkan bersolek untuk lawan jenis yang bukan mahram. Bersoleknya hanya untuk suami. 
Akhirnya berat saya menjawab, 'Iya nanti dikurangi.'
Karena kita sudah menetapkan akhir 2014 Insya Allah akan walimah, akhirnya saya mulai mencoba shalat Isthikharah. Enggak sekali, hampir 3 kali. Dia pun kaget saya sudah shalat Isthikharah. Namun memang, Allah lebih sayang sama saya. Saya enggak diberi mimpi ataupun satu petunjuk nyata tentang dia.

Selepas itu kami masih saling berhubungan hingga bulan ke 3. Dan sesudah lebaran 2014 dia menghilang entah kemana seperti ditelan Kraken. 
Jelas saya patah hati. Walau kita tidak menyebut hubungan 3 bulan belakangan ini pacaran, karena mengarah kepada ta'aruf tapi terselubung, tetap saja rasanya sakit hati ini (ceile....).
Setelah saya 'curhat' sama sahabat yang juga kenal dengan lelaki itu, dia berkomentar, "Mungkin nih je, mungkin... elo kan memang jarang berhubungan dengan lawan jenis. Ketika ada yang menawarkan itu lo senang dan akhirnya menerima walau sebenarnya udah ngerasa nggak cocok pada akhirnya. Intinya lo hanya suka ide-nya. Ide untuk menikah."
Saat itu saya sadar se-sadar-sadarnya. Benar juga. Apa yang ia tawarkan karena mencari seorang pendamping saya setujui. Cocok tidak cocok urusan belakangan. Namun pada akhirnya kita berdua menyerah dan tidak melanjutkan proses ta'aruf.

Setelah 'sober' dari rasa galau, saya mulai berpikir dan merunut kesalahan-kesalahan yang mungkin memang dirasa terjadi karena kekhilafan, yang menyebabkan dia enggan meneruskan. Saya tersadar dari foto selfie yang saya pasang di Path. Dan bersamaan itu salah seorang sahabat di Path bercerita bahwa ia tidak mau memasang foto aslinya lagi. Saya kepo sama sahabat saya itu. Saya buka instagramnya dan tulisan-tulisannya buat saya tersadar (padahal aslinya ganteng lho. Tapi dia nggak mau ambil resiko panjang karena dia sadar itu akan membuat dosa). Dan saya juga ingat sama tulisan Ust. Felix Siauw mengenai selfie. Berikut sedikit kutipan yang ambil dari website pak Ustadz:

selfie itu kebanyakan berujung pada TAKABBUR, RIYA, sedikitnya UJUB
buat cewek apalagi cowok, lebih baik hindari yang namanya foto selfie, nggak ada manfaatnya banyak mudharatnya
bila kita berfoto selfie lalu takjub dengan hasil foto itu, bahkan mencari-cari pose terbaik dengan foto itu, lalu mengagumi hasilnya, mengagumi diri sendiri, maka khawatir itu termasuk UJUB
bila kita berfoto selfie lalu mengunggah di media sosial, lalu berharap ianya di-komen, di-like, di-view atau apalah, bahkan kita merasa senang ketika mendapatkan apresiasi, lalu ber-selfie ria dengan alasan ingin mengunggahnya sehingga jadi semisal seleb, maka kita masuk dalam perangkap RIYA
bila kita berfoto selfie, lalu dengannya kita membanding-bandingkan dengan orang lainnya, merasa lebih baik dari yang lain karenanya, merasa lebih hebat karenanya, jatuhlah kita pada hal yang paling buruk yaitu TAKABBUR
ketiganya mematikan hati, membakar habis amal, dan membuatnya layu bahkan sebelum ia mekar

Dan seterusnya. Untuk lebih lanjut bahasan selfie bisa dilihat di sini.
Astaghfirullah..... ternyata apa yang saya lakukan itu salah. Niat hati ingin terlihat beda namun pada akhirnya saya sendiri yang membuat celaka. Pertemuan dengan lelaki itu alhamdulillah telah membuka hati saya bahwa selfie yang saya lakukan benar mudharat hasilnya. Saya seharusnya berterima kasih kepada lelaki itu kalau tidak saya masih merasa ujub dengan tampilan cantik diri sendiri dan mempostingnya lebih banyak. 
Semoga teman-teman yang masih suka selfie, apalagi muslimah dijaga baik-baik ya kesuciannya. Kesucian bukan hanya dari kemaluan fisik, namun khazanah seorang muslimah. Inti dari seorang muslimah. Kita tidak tahu apa yang dilihat para lelaki yang mengagumi kecantikan fisik kita, apakah hanya sekedar penyegar mata atau benar-benar menjadi penyegar nafsu birahi sebagai pelampiasan? Maaf lho kalau tulisannya sedikit vulgar. Saya pernah dapat info dari teman soal JKT48. Di teater yang mereka miliki juga dijual merchandise para member grup idol yang masih satu keluarga dengan AKB48 dari Jepang. Banyak kejadian para wota (die hard fans JKT48) membeli foto-foto para member dan menjadikannya sebagai (maaf) bahan untuk masturbasi. Bayangkan kalau foto member grup idol itu adalah kamu, diambil dari foto selfie yang diposting di sosmed kamu. Sebagai perempuan pasti rasanya jijik dan merasa dilecehkan! :(
Kalau belum bisa langsung stop no-selfie di sosmed, pelan-pelan saja seperti berfoto bersama dengan teman-teman yang banyak. Kalau ingin foto baju, wajahnya mungkin bisa di-blur. Banyak teman-teman sudah melakukan hal ini. Seperti foto bio saya di sebelah post... dimacem-macemin dengan template yang aneh-aneh ;D Teman-teman dekat saya sudah tahu kalau saya enggak suka foto muka. Kalaupun foto muka pasti dianeh-anehin. hehehe..... Atau cari sendiri tips yang mungkin pas dengan caramu sendiri.

P.S: cek Instagram sahabat sholeh saya yang menyadarkan anti selfie & pastinya bikin kamu bisa termotivasi di sini !

Monday, January 11, 2016

Midnight Monday Vol. 1



Hello!!

Dulu aku pernah punya lini aksesoris namanya Lady Locker. Tapi sekarang aku punya yang baru namanya Midnight Monday!

Alhamdulillah, Midnight Monday sudah masuk bulan ke dua dari sejak tanggal pembuatan yaitu di tanggal 18 November 2015 lalu. Pendirinya adalah saya dan sahabat namanya Annona. 

Nah, koleksi perdana ini kita luncurkan bersamaan dengan malam puncak penobatan Miss KidZania 2015 pada tanggal 20 Desember 2015. Volume 1 kita beri nama Sweet Safari, terinspirasi dari koleksi aksesoris dengan tren binatang dipadu dengan manisnya warna-warni yang juga terilhami oleh indahnya taman konservasi di seluruh dunia.

Lihat cuplikannya yuk!

















Btari Keshya Valerie, Miss KidZania 2013 juga mengenakan aksesoris dari Midnight Monday lho. 









Nah ini cuplikan dari Vol. 1.. :)


Buat lebih lengkapnya sila mampir ke tokonya yaa! Di:
facebook fanpage : Midnight Monday 
Instagram : @midnightmonday.id



Tausiyah Cinta the Movie

Bagaimana caranya menjelaskan rindu kepada seseorang yang entah siapa dan di mana saat ini.

Untukmu yang jauh di sana, terkadang mata ini iri kepada hati, karena kau ada di hatiku namun tidak tampak di mataku.

Aku tidak memiliki alasan pasti mengapa sampai saat ini masih ingin menunggumu, meski kau tak pernah meminta untuk ditunggu dan diharapkan.

Hati ini meyakini bahwa kau ada, meski entah di belahan bumi mana.

Yang aku tahu, kelak aku akan menyempurnakan hidupku denganmu, di sini, di sisiku.

Maka, saat hatiku telah mengenal fitrahnya, aku akan berusaha mencintaimu dengan cara yang dicintai-Nya.

Sekalipun kita belum pernah bertemu, mungkin saat ini kita tengah melihat langit yang sama, tersenyum menatap rembulan yang sama.

Di sanalah, tatapanmu dan tatapanku bertemu.

- Tausiyah Cinta 

Kutipan puisi pada halaman 94 di dalam buku bersampul manis berwarna pink origami bangau, Tausiyah Cinta inilah yang menjadi cakupan inti dari film dengan judul yang sama, Tausiyah Cinta.





Kamis tepat jam 7 malam WIB berlokasi di XXI Blok M Square, aku, Irma dan Lelly nonton bareng (no-bar) atas undangan dari Tim Bedasinema Pictures yang mengundang para bloggers untuk melihat film Tausiyah Cinta premiere. Pak Ibas yang bertugas menjadi PIC Escort untuk tamu undangan sedikit mengobrol dengan kami sebelum filmnya mulai. Beliau bilang, nanti saat nonton filmnya pasti beda. Karena kami sangat menjaga kualitas film dimulai dari para pemainnya. Saat proses produksi para pemain tidak ada yang bersentuhan, apalagi bila ada dalam satu frame. Sama sekali dijaga :) jika ada adegan pelukan pun hanyalah adegan ibu dan anak (ibu dan putri, adegan Rei dengan ibu dan Azka dengan ibu. Tapi apakah pemeran ibu dengan Azka beneran ibunya Azka-kah?).

Pada pagi hari beberapa jam sebelum pergi ke XXI, aku pasang status di Path dan tag temanku yang salah satu penulis di buku Tausiyah Cinta. Ia juga berpesan, bahwa film ini beda dengan film-film biasa yang kita tonton dengan dana milyaran. Walau dengan budget terbatas namun tetap asik ditonton.

Dan benar saja, setelah kutonton film Tausiyah Cinta ini memang beda (bukan TVone ye... ;D). Perbedaan itu ada yang positif dan negatif. Karena ada beberapa hal yang ingin ku-review dari film TC, maka aku buat dengan beberapa part.

1. Pemain
Tokoh sentral film TC ada 3. Azka Pradipta (Hamas Syahid) seorang pemuda sholeh berwajah tampan, memiliki karir cemerlang di bidang arsitek, sedikit perfeksionis. Keimanannya diuji ketika musibah secara beruntun datang menerpanya. Lefan Aurino (Rendy Herpy), pebisnis muda yang sudah hidup dengan mapan, hadir dari keluarga salah komunikasi menyebabkan ia bertanya-tanya tentang kearifan Tuhan. Dan Kareina Zahra (Ressa Rere), muslimah yang masih mahasiswi dengan prestasi gemilang, bercita-cita ingin membahagiakan orang tuanya dengan menikah. Kualitas pemain utama cukup bagus. Akting natural dari Ressa Rere sebagai mahasiswi cukup meyakinkan. Namun sedikit over pada Rendy Herpy yang berakting laiknya drama televisi kebanyakan. In my words, "Too much drama". Hamas Syahid juga masih terlihat kaku di beberapa scene. Bagian favorit yang bisa kamu ingat terus ada pada scene Hamas sedang menghapal surat namun tidak selesai dan dibantu oleh para jemaat yang sedang mendengarkan hingga selesai (FYI, ternyata Ustadz kembar 3 itu jadi cameo, and nailed it pump up the tension! ;) )
Pemain tambahan ada pada Afian (Zaky ZR), pemuda sederhana dengan keahliannya di bidang menulis buku-buku tentang Islam menginginkan impiannya untuksegera menikah, namun terganjal dengan kesehatan orang tuanya. Akting Zaky cukup bagus, laiknya ikhwan dengan rasa gugup saat bertemu akhwat, apalagi berani meminang.




Yang cukup mengherankan, akting yang menonjol ada pada tokoh teman sekantor Azka (lupa namanya & tokohnya siapa...) yang sedikit menyebalkan bikin kesel penonton. Aktingnya sebagai orang nyebelin terlihat bagus dan seperti sudah biasa tampil di depan kamera. Orang bilang antagonis itu memang seru, dan dia berhasil nunjukkin itu.
Selebihnya aktor-aktor senior yang malah menjadi sisipan 'mengejutkan' di tengah-tengah film. Seperti Irwansyah sebagai Fattih, teman Azka dari Jerman, Peggy Melati Sukma sebagai ibu Kareina dan Seffira Meyda sebagai Bu Aufa. Tanpa banyak komentar, akting mereka tidak perlu dikhawatirkan walau hanya sebagai pendukung.

2. Cerita
Kisah film TC berdasarkan puisi pada buku pertama yang berjudul sama (puisi yang telah ditulis di atas). Dari segi cerita cukup kuat karena tidak lepas dari Al-Qur'an sebagai pedoman. Mengambil dari sisi manusia yang mencari cinta sejati, namun tak lepas dari syariat Islam. Sebagaimana kita tahu bahwa dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran. Lalu, bagaimana kalau kita enggak pacaran terus gimana kita bakalan menikah? Yap, film ini mendobrak stigma masyarakat yang--walau sudah mulai sedikit demi sedikit terbuka dengan syariat Islam--masih tabu dalam pencarian kisah cinta dalam Islam. Dari rasa yang mulai tumbuh, lalu khitbah hingga pada proses ta'aruf yang sesuai syariat. Penonton akan sedikit dikejutkan dengan plot twist yang terjadi pada tengah hingga akhir kisah. Plot omnibus juga menjadi poin penting sebagai daya tarik film TC. Namun sebuah film tiada yang sempurna. Beberapa kejanggalan jelas terasa di beberapa adegan. Misal, saat Lefan mendapat telepon dari salah seorang sahabat yang berada di luar negeri, which is clue-nya dari kode telepon yang terpampang di layar telepon. Which is I know it's from UK, because the code is +44. Namun sayangnya tidak dijelaskan pada percakapan di telepon. Tidak ada sisipan detil mengenai sahabat berada di lokasi mana, cuaca apa, lagi apa, pekerjaan apa... yang terjadi adalah langsungnya Lefan mengajak dugem. Wait--wait, where's waldo? *over confuse*

Overall, dari beberapa bloopers cerita tetap puitis seperti puisinya. Manis dan hayati.

Dan terus yang kulihat di poster Kareina selalu memegang panahan. Apakah ia seorang pemanah? Kenapa aku nggak sadar itu di mention di filmnya ya? Atau aku lagi tidur saat adegan panahan itu? Somebody please tell meeee...... T,T

3. Sinematografi & Sound
Nah ini yang paling krusial. Aku bukan orang film, namun penikmat film. Dan penikmat film, butuh kemanjaan mata pada pengambilan gambar adegan-adegan. Pada awal-awal film terasa seperti masih amatir dengan pengambilan gambar terlalu zoom in pada wajah seperti sinetron (untungnya gak di zoom out terus balik lagi ke zoom in, terus zoom out.... terus zoom in.... *auk amat*). Pengambilan shot seperti fokus pada wajah mengaburkan fokus cerita dan layar belakang, seperti dia lagi dimana tadi ya?. Seperti pengambilan wajah Azka dan Lefan terlalu berlebihan. Yaaassss mama we know they are beautiful handsome men. Tapi ingat loh kak, ini kan film Islam yang syar'i. Dengan adanya zoom in pada Azka dan Lefan bikin penonton akhwat terkadang senyum-senyum sendiri, Masya Allah.... ada baiknya dihindari atau dikurangi supaya mata para akhwat jangan terlalu dimanja berlebihan oleh ketampanan para pemain. Beberapa gambar juga kadang diambil secara paksa dan perpindahannya kurang halus. Tapi adegan favoritku ada pada shot story Kareina berbusana gamis diiringi puisi. Emosi penonton diajak mendayu dan terhanyut dengan perjalanan pencarian cinta ketiganya. Sound. Untuk sound/suara agak sedikit mengganggu. Lagu-lagu soundtrack terasa sedikit 'dipaksa' masuk ke adegan. Padahal hanya alunan instrumen dari musiknya pastilah terasa cukup manis dan pas. Terkadang musiknya datang terlalu kencang, lalu terlalu kecil, lalu berhenti mendadak tanpa adanya shufflin' dengan adegan berikutnya. Kadang emosi penonton yang sudah oke jadi mood swing yang penuh apostrof (halah!).

4. Pakaian & Tata Rias
Sesuai syariat Islam dan profesional pada tempatnya. Lefan si pebisnis muda pas dengan tampilan yang clean cut dan eksklusif. Busana muslim Kareina juga tidak berlebihan maupun kurang. Pas dan menunjukkan sosok Muslimah yang sholehah. Untuk tata rias beberapa scene terlihat tampilan Azka dan Lefan dengan bedak yang terlalu tebal dan kurang natural. Bagi yang tahu dengan adegan musibah Azka pasti memperhatikan luka di wajah Azka. Ini cukup menarik karena luka pada wajah Azka diperhatikan dengan detil. Seperti proses dari luka basah hingga menjadi kering lalu menjadi goresan/scar yang membekas. 

Ini sih bukan review ya, tapi kritik film ;) 
Tapi dimana ada karya pasti ada kritik dan saran membangun. Sepenuhnya tulisanku ini adalah perhatian penonton yang menginginkan adanya film-film serupa, namun kedepannya menjadi lebih baik lagi walau ada satu-dua hal yang menghalangi. Namun apalah saya yang bukan siapa-siapa :) 
Seperti kutipan dari hadis, jika bergantung pada manusia yang ada hanyalah kekecewaan semata. Sedangkan jika mengandalkan Allah dalam hidup, niscaya tenteram hidup ini. 

So overall, Tausiyah Cinta tontonan menarik yang nggak boleh dilewatin bulan ini. Mari kita hijrah dan jemput cinta-Nya dengan jalan yang Ia kehendaki. 

Seperti kutipan ayat yang terkandung di Q.S An-Nur; 26:
"Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik."

Semangat untuk Bedasinema Pictures & TC crews! Teruslah berdakwah tanpa lelah.